Saat syair
ILIR-ILIR berkumandang di negeri melayu(Malaysia)
Lir ilir lir ilir tandure wong sumilir
Tak ijo royo royo
Tak sengguh penganten anyar
Bocah angon bocah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro dodotiro kumintir bedah ing pinggir
Dondomono jrumatono kanggo seba mengko sore
Mumpung padang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Yo surak’0 surak hiyo
Tak ijo royo royo
Tak sengguh penganten anyar
Bocah angon bocah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro dodotiro kumintir bedah ing pinggir
Dondomono jrumatono kanggo seba mengko sore
Mumpung padang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Yo surak’0 surak hiyo
Antusiasme para Ahbabul
Musthofa khususnya dari jawa tengah(Indonesia) dalam
melantunkan syair ilir-ilir membuat heran para jamaah mega mawlid malam dambaan
cinta Rasul. Karena begitu semangatnya ikut melantunkan qosidah yang berbahasa
jawa ini,
99.99% penduduk melayu tidak bisa dan tidak mengerti arti bahasa jawa akan
tetapi salah satu dari warga tempatan mengatakan bahasa jawa itu bagus, walau
saya tidak mengerti namun saya terhibur dan bahkan kepingin bisa belajar bahasa
jawa ucap mamad(37).
Jika di amati dari perkataan orang melayu ini, dia saja yang bukan warga
negara mengakui ke unikan dan ke cantikan akan bahasa yang dimiliki Indonesia
kenapa kita(warga Negara Indonesia) terkadang malu dan menyembunyikan bahasa
kita sendiri?
Mari mulai cintai kekayaan bahasa kita, jangan pernah malu menggunakan
bahasa milik negara sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar